Kamis, 06 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Jejak Perjuangan Bung Karno Muda: Dari Sekolah hingga Mendorong Kemerdekaan Indonesia

Jejak Perjuangan Bung Karno Muda: Dari Sekolah hingga Mendorong Kemerdekaan Indonesia

Jejak Perjuangan Bung Karno Muda: Dari Sekolah hingga Mendorong Kemerdekaan Indonesia
Poin Penting:
  • Bung Karno muda adalah sosok dengan semangat belajar tinggi dan jiwa kepemimpinan yang kuat.
  • Pendidikan yang dijalani di HBS dan interaksi dengan tokoh-tokoh pergerakan mengasah wawasan Bung Karno.
  • Keterlibatan Bung Karno dalam berbagai organisasi pemuda menjadi titik awal dari kontribusinya terhadap kemerdekaan.

BLITAR - Sosok Bung Karno muda merupakan figur yang tidak hanya dikenal karena semangat belajarnya yang tinggi, tetapi juga jiwa kepemimpinan yang telah terasah sejak usia dini. Perjalanan hidupnya mengisahkan bagaimana pendidikan yang diperoleh, keikutsertaan dalam organisasi, dan pengalaman hidupnya secara keseluruhan, membentuk karakter yang kelak memimpin Indonesia menuju gerbang kemerdekaan.

Bung Karno, yang lahir dari keluarga yang mengedepankan pendidikan, merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru yang berdedikasi, serta Ida Ayu Nyoman Rai, yang berasal dari latar belakang bangsawan Bali. Ia menghabiskan masa kecil di Tulungagung di bawah bimbingan sang kakek sebelum akhirnya mengikuti orang tuanya ke Mojokerto. Di sinilah, pencarian ilmu dan pengalaman berharga dimulai.

Kesempatan untuk mengecap pendidikan berkualitas, yang saat itu hanya dapat diakses oleh segelintir masyarakat pribumi, mendorong pemikiran kritis Bung Karno muda. Ia menempuh pendidikan dasar di Mojokerto, kemudian melanjutkan ke Europeesche Lagere School, hingga diterima di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya. Jenjang pendidikan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk jaringan yang berharga dalam perjuangan melawan penjajahan.

Selama di Surabaya, Bung Karno berkesempatan tinggal di rumah HOS Cokroaminoto, di mana ia berinteraksi dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti Haji Agus Salim dan Abdul Muis. Lingkungan ini tidak hanya merangsang diskusi, tetapi juga mendorongnya untuk aktif di organisasi pemuda Tri Koro Dharmo, yang kemudian dikenal sebagai Jong Java. Melalui berbagai artikel yang dimuat di harian Utusan Hindia, ia mulai mengembangkan kemampuan menulisnya. Setelah lulus dari HBS, perjalanan akademisnya berlanjut di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini merupakan Institut Teknologi Bandung (ITB), di mana ia mengambil jurusan Teknik Sipil dan berhasil meraih gelar insinyur pada tahun 1926. Di Bandung, interaksi dengan tokoh-tokoh nasional seperti Ki Hajar Dewantara semakin memperkuat komitmennya terhadap perjuangan bangsa.