- Dinkes Tulungagung menemukan obat dan minuman bermasalah di SPPG Pakisrejo terkait dugaan keracunan.
- Koordinasi dengan instansi kesehatan setempat sangat penting dalam penanganan kasus kesehatan.
- Dugaan keracunan melibatkan 103 orang, dengan satu pasien dirawat di Puskesmas.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung mengkonfirmasi adanya penemuan yang mengkhawatirkan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo, terkait dugaan kasus keracunan makanan. Dalam inspeksi yang dilakukan setelah menerima laporan mengenai gejala keracunan dari sejumlah penerima Makanan Bergizi Gratis (MBG), tim Dinkes menemukan obat diare dan minuman kelapa muda bermerek yang disiapkan dalam kemasan plastik. Temuan ini terjadi di Kecamatan Rejotangan dan memunculkan pertanyaan serius mengenai prosedur yang diterapkan di fasilitas tersebut.
Aris Setiawan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tulungagung, menjelaskan bahwa obat dan minuman tersebut seharusnya tidak dibagikan tanpa adanya konsultasi dengan pihak kesehatan setempat, yang mencakup Puskesmas Pembantu, Pondok Bersalin Desa (Polindes), hingga Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Meskipun Aris tidak secara langsung menyebutkan hal ini sebagai pelanggaran prosedur, peringatan tentang perlunya koordinasi adalah sesuatu yang krusial dalam penanganan masalah kesehatan.
Dinkes mengakui bahwa informasi mengenai dugaan keracunan baru diterima dua hari setelah kejadian, menyusul laporan dari salah satu pasien yang memerlukan perawatan di Puskesmas Banjarejo. Sebelumnya, pada Senin, 27 Juli 2026, sebanyak 103 penerima MBG di SPPG Pakisrejo dilaporkan mengalami gejala keracunan, yang mencakup balita, ibu menyusui, siswa, hingga guru. Dari total tersebut, hanya satu orang yang dirawat di Puskesmas, menunjukkan bahwa gejala yang dialami mungkin bervariasi dan belum memberikan dampak serius kepada semua penerima.
Situasi ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua pihak terkait akan pentingnya menjaga standar kesehatan dan keselamatan dalam setiap program gizi yang diadakan, untuk memastikan keselamatan masyarakat, terutama mereka yang rentan seperti ibu dan anak. Ke depan, diperlukan langkah-langkah preventif serta komunikasi yang baik antara Dinkes, SPPG, dan aparat kesehatan setempat, agar peristiwa serupa tidak terulang.