- Pemadaman listrik berdampak signifikan pada pelaku UMKM di Blitar.
- Ketergantungan terhadap pasokan batu bara membuat ketahanan energi rentan.
- Perlu adanya transparansi dan percepatan transisi energi hijau untuk mengatasi masalah ini.
Pemadaman listrik yang tak terjadwal telah menjadi isu krusial bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Blitar. Banyak dari mereka merasakan dampak langsung yang tidak hanya berupa ketidaknyamanan, tetapi juga ancaman nyata terhadap keberlangsungan usaha mereka. Ketika listrik padam, modal yang telah diinvestasikan seolah perlahan-lahan menguap. Bagi para pelaku UMKM, setiap menit tanpa listrik bisa berakibat fatal, menghentikan produksi, dan merugikan pendapatan harian.
Kondisi ini diperparah oleh ketergantungan sistem kelistrikan yang masih mengandalkan pasokan batu bara, seperti yang diungkapkan oleh pakar Hukum Energi dari Universitas Airlangga. Beliau menegaskan bahwa ketahanan energi di wilayah kita menjadi sangat rentan, dan adanya pemadaman yang tidak terduga ini menciptakan dampak ganda atau 'Double Hit' bagi masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa sudah saatnya untuk meningkatkan transparansi jadwal pemadaman dan mempercepat transisi menuju energi hijau.
Situasi di Blitar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa banyak UMKM yang terpaksa menghentikan operasional mereka. Dalam konteks ini, kami mengajak masyarakat untuk berbagi pengalaman mengenai dampak pemadaman listrik yang dirasakan. Apakah bisnis Anda terpengaruh? Temukan respon dari rekan-rekan di komunitas lokal dan dengarkan analisis lebih dalam mengenai isu ini di program 'Spektrum Radio Jatim' pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 09.00 WIB di seluruh radio anggota PRSSNI se-Jawa Timur, termasuk di @radiopatria Blitar. Mari bersama-sama mencari solusi agar ketidakpastian ini tidak mengganggu keberlangsungan ekonomi kita.