Kamis, 06 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Menyikapi Gaya Komunikasi Gen Z: Etika dalam Era Digital di Blitar

Menyikapi Gaya Komunikasi Gen Z: Etika dalam Era Digital di Blitar

Menyikapi Gaya Komunikasi Gen Z: Etika dalam Era Digital di Blitar
Poin Penting:
  • Gaya komunikasi Gen Z sering dianggap kurang beretika, padahal itu adalah kebiasaan terbentuk dari era digital.
  • Pola komunikasi yang ringkas bukanlah indikasi ketidaksopanan, melainkan upaya untuk efisiensi.
  • Pendekatan Politeness Theory dapat menjembatani perbedaan komunikasi antar-generasi.

BLITAR – Ketika berbicara tentang komunikasi Generasi Z, sering kali kita terhadapkan pada pandangan bahwa gaya komunikasi mereka yang singkat dan langsung dianggap tidak beretika oleh generasi lebih tua. Namun, Psikolog asal Blitar, Cika Humaira, menjelaskan bahwa pola komunikasi ini sesungguhnya adalah hasil dari terbentuknya kebiasaan hidup di era digital yang serba cepat. Cika menekankan bahwa gaya yang dikenal dengan istilah zero malice ini tidak berarti mereka tidak menghargai lawan bicara. Sebaliknya, itu adalah cara mereka menyampaikan pesan yang efisien dan efektif.

Generasi Z tumbuh dalam lingkungan digital yang mendorong kecepatan, di mana penggunaan aplikasi pesan instan membuat mereka terbiasa mengomunikasikan informasi dengan singkat. Hal ini bertolak belakang dengan cara generasi sebelumnya yang mementingkan unsur formalitas dan basa-basi dalam berkomunikasi. Pergeseran ini kerap menimbulkan kesalahpahaman antar-generasi, di mana generasi yang lebih tua merasa bahwa kurangnya basa-basi mencerminkan ketidaksopanan.

Untuk menjembatani perbedaan persepsi ini, Cika mengusulkan pendekatan Psikologi Komunikasi yang berakar pada Politeness Theory atau Teori Kesantunan. Pendekatan ini memungkinkan Generasi Z untuk tetap mempertahankan gaya komunikasi ringkas mereka sambil tetap menghormati nilai-nilai etika dalam interaksi. Dengan menekankan pentingnya penggunaan tiga “kata sakti”: tolong, terima kasih, dan maaf, komunikasi dapat berlangsung dengan baik tanpa mengurangi rasa hormat antar individu. Melalui cara ini, pesan dapat disampaikan secara efisien, dan kesan negatif seperti ketidakpedulian atau kasar dapat diminimalisir.