Minggu, 12 Juli 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pemerintahan Antisipasi Krisis Air Bersih: BPBD Blitar Siaga 21 Titik Rawan Kekeringan

Antisipasi Krisis Air Bersih: BPBD Blitar Siaga 21 Titik Rawan Kekeringan

Antisipasi Krisis Air Bersih: BPBD Blitar Siaga 21 Titik Rawan Kekeringan
Poin Penting:
  • Debit air sungai di Blitar mulai menyusut, dengan perhatian khusus pada aliran lahar di Sukorejo.
  • BPBD mengidentifikasi 21 titik berpotensi kekeringan di tujuh kelurahan.
  • Masyarakat diimbau untuk lebih hati-hati dalam melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Memasuki musim kemarau, Kota Blitar, yang dikenal sebagai Bumi Bung Karno, mulai menunjukkan tanda-tanda penyusutan debit air pada sejumlah aliran sungai. Salah satu yang menjadi perhatian adalah aliran sungai lahar di wilayah Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, di mana volume air kini terlihat menurun dibandingkan dengan kondisi biasa. Meskipun hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai krisis air bersih dari masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Blitar tetap menganggap situasi ini sebagai indikator awal atas dampak cuaca panas yang mulai dirasakan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Blitar, Agus Suherli, mengungkapkan, โ€œMeskipun terlihat bahwa beberapa sungai mulai surut, termasuk aliran lahar di Sukorejo, hal itu belum dapat digunakan sebagai patokan pasti untuk mengindikasi terjadinya krisis air. Ini hanya merupakan gambaran kondisi lapangan yang dihadapi saat ini.โ€ Untuk itu, BPBD telah mengambil langkah antisipasi dengan merujuk pada peta rawan kekeringan dari tahun lalu, yang menunjukkan ada 21 titik berpotensi mengalami kekeringan di tujuh kelurahan berbeda.

Beberapa kelurahan yang menjadi fokus pemantauan antara lain Ngadirejo, Sentul, dan Lingkungan Jatimalang. BPBD berkomitmen untuk melakukan sosialisasi secara intensif kepada masyarakat yang tinggal di daerah rawan tersebut agar mereka dapat mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terjadinya krisis air bersih, terutama jika kemarau berkepanjangan terjadi. Selain itu, menyusutnya air di sungai juga menimbulkan potensi risiko lain, seperti kebakaran. Dalam hal ini, BPBD mengingatkan masyarakat Bumi Bung Karno untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Warga diimbau untuk tidak membakar sampah secara sembarangan tanpa pengawasan, terutama di area yang padat bangunan, demi menghindari risiko kebakaran yang dapat merugikan banyak pihak. Dengan langkah-langkah antisipatif ini, diharapkan masyarakat dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih siap dan aman.