- Alwi Farhan mengalami lonjakan detak jantung yang signifikan saat final Australia Open.
- Pengalaman dan tekanan berkompetisi di level tinggi membuatnya semakin matang sebagai atlet.
- Alwi belajar mengelola rasa takut dan tekanan mental melalui persiapan yang baik.
JAKARTA - Alwi Farhan, pebulu tangkis tunggal putra asal Indonesia, baru-baru ini membuka suara mengenai tantangan mental yang dihadapinya saat berlaga di final Australia Open. Meskipun penampilannya di atas lapangan terlihat tenang, Alwi mengakui mengalami lonjakan detak jantung yang signifikan, mencapai angka 200, dalam momen krusial pertandingan tersebut. Pengalaman ini menunjukkan betapa tinggi tekanan yang dirasakan oleh atlet pada level kompetisi internasional.
Di berbagai turnamen sebelumnya, Alwi Farhan telah terbiasa dengan situasi penuh tekanan. Ia mencatatkan bahwa pernah mengalami detak jantung hingga 213 saat meraih kemenangan di World Junior Championship. Situasi ini tentu menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi seorang atlet profesional. Meskipun jantung berdebar kencang, Alwi tetap merasakan kondisi fisik yang baik dan tidak mengalami kelelahan berlebih di tengah persaingan yang ketat.
Alwi juga menyampaikan bahwa pengalaman di turnamen Australia Open ini mengingatkannya pada saat-saat berharga ketika membela tim nasional Indonesia di ajang Thomas Cup. Tanggung jawab untuk memberikan kontribusi maksimal bagi Merah Putih meningkatkan tingkat ketegangan yang harus dihadapinya, terlebih dengan ekspektasi tinggi dari pelatih dan dirinya sendiri.
Dari lintasan kariernya, Alwi Farhan menyadari bahwa tekanan adalah bagian integral dari perjalanan sebagai seorang pebulu tangkis. Ia belajar untuk mengatasi rasa takut dan kegelisahan melalui disiplin latihan yang ketat. Meskipun penonton mungkin tidak melihat gejolak yang terjadi di dalam pikiran Alwi selama pertandingan, ia terus berusaha menjaga fokus agar dapat mencetak poin demi poin, sebuah pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya ke depan menuju gelar level 750 dan 1000.