- 340 ODHIV di Blitar hilang kontak dengan layanan kesehatan.
- Data kumulatif HIV di Blitar tercatat 2.624 kasus sejak 2009.
- Keberhasilan terapi HIV tergantung pada kepatuhan pasien terhadap pengobatan ARV.
Sebanyak 340 orang dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Blitar saat ini tercatat hilang kontak dengan layanan kesehatan, sebuah kondisi yang memicu keprihatinan mendalam dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko penularan HIV dan dapat menghambat keberhasilan pengobatan bagi pasien yang memerlukan terapi lebih lanjut.
Data dari Dinkes menunjukkan, sejak tahun 2009 hingga 2026, jumlah kumulatif kasus HIV di Kabupaten Blitar telah mencapai 2.624 kasus. Dari total tersebut, 1.246 individu dilaporkan meninggal dunia, sementara 854 pasien masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV). Dalam konteks ini, 184 pasien lainnya telah dirujuk ke fasilitas kesehatan di luar daerah, sedangkan 340 orang berstatus loss to follow up (LFU) atau hilang kontak, sebuah tantangan yang signifikan dalam pengendalian epidemi HIV di wilayah ini.
Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, menjelaskan bahwa status hilang kontak ini dapat dialami oleh pasien baik sebelum mereka mulai menjalani terapi ARV, maupun setelah mendapat pengobatan. 'Kondisi ini perlu segera ditangani agar tidak berdampak lebih luas,' jelas Christine. Menurutnya, terapi ARV yang rutin dan berkelanjutan adalah kunci untuk menekan jumlah virus dalam tubuh pasien, dan berhentinya perawatan dapat menurunkan kesehatan mereka dan memperbesar risiko penularan kepada orang lain.
Christine juga mengingatkan bahwa keberhasilan dalam pengobatan HIV tidak hanya bergantung pada ketersediaan obat, tetapi juga pada komitmen setiap pasien untuk melanjutkan terapi sesuai dengan anjuran tenaga medis. 'Pasien yang hilang kontak ini merupakan tantangan besar bagi kita, karena keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan untuk menjalani pengobatan secara rutin,' tutupnya. Dengan upaya bersama, diharapkan masyarakat Blitar dapat teredukasi dan tergerak untuk menjaga kesehatan diri dan orang lain, serta mencegah penyebaran HIV.