- Pesulap Merah mengunjungi dukun Cirebon, Pak Buyung, untuk menguji klaim kemampuannya.
- Kemampuan yang diklaim sebagai Qulhu Geni lebih tepat disebut Banaspati, berkaitan dengan energi panas.
- Video ini menyampaikan pesan edukasi untuk memahami dunia perdukunan dengan lebih kritis.
Pesulap Merah, seorang seniman sulap yang dikenal luas di kalangan masyarakat, kembali memicu perhatian publik dengan konten terbaru mengenai dunia perdukunan. Kali ini, ia mencurahkan perhatiannya kepada seorang praktisi dukun asal Cirebon yang dikenal dengan nama Pak Buyung. Dalam video yang diunggah, Pesulap Merah menelusuri kemampuan Pak Buyung yang dicap memiliki kemampuan magis bernama Qulhu Geni, namun sayangnya, hasil penyelidikan itu justru mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan: kemampuan yang dimaksud bukanlah hal klenik, melainkan hasil dari pelatihan dan keahlian yang bisa dipelajari.
Dalam kunjungannya, Pesulap Merah ingin membuktikan secara langsung kemampuannya dan tidak hanya mengandalkan klaim semata. Bukan tanpa alasan, tantangan dari penontonnya membuatnya terdorong untuk menguji dan menampilkan keahlian dari Pak Buyung. Dalam demonstrasi yang berlangsung, Pak Buyung memamerkan trik yang memukau dengan membakar benda tanpa menggunakan pemantik, disertai dengan penjelasan mengenai apa yang disebutnya sebagai Banaspati — sebuah kemampuan yang berhubungan dengan energi panas dan dipercaya diturunkan dari generasi ke generasi.
Namun, Pesulap Merah tak tinggal diam. Dalam suasana penuh kritik dan analisis, ia menampilkan aksi sulapnya sendiri dengan memanfaatkan sejumlah benda dari Pak Buyung, menciptakan ilusi yang mengaitkan fenomena nyata dengan mistisme. Melalui tayangan ini, Pesulap Merah tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara pandang terhadap dunia perdukunan yang seringkali dibingkai dalam nuansa magis tetapi dapat dijelaskan dengan logika dan pengetahuan.
Di tengah perkembangan zaman, konten ini menjadi salah satu wujud edukasi untuk masyarakat, terutama di Blitar dan sekitarnya, untuk membuka pola pikir serta menangkan kembali sifat kritis terhadap hal-hal yang dipersepsikan ajaib. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat mengurangi kepercayaan buta terhadap praktik perdukunan yang nyata-nyata adalah seni dan ilmu yang dapat dibahas secara ilmiah.