Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Peran KH Hasyim Asy'ari dalam Melahirkan Nahdlatul Ulama: Sejarah dan Makna bagi Masyarakat Blitar

Peran KH Hasyim Asy'ari dalam Melahirkan Nahdlatul Ulama: Sejarah dan Makna bagi Masyarakat Blitar

Peran KH Hasyim Asy'ari dalam Melahirkan Nahdlatul Ulama: Sejarah dan Makna bagi Masyarakat Blitar
Poin Penting:
  • KH Hasyim Asy'ari berperan penting dalam mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.
  • Pertemuan ulama di kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah krusial untuk pelestarian praktik Islam tradisional.
  • Menghadapi penolakan dari kelompok reformis mendorong ulama untuk berupaya mandiri dalam memperjuangkan tradisi keagamaan.

Sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) tak lepas dari peran penting KH Hasyim Asy'ari, yang dianggap sebagai penggagas pertemuan para ulama pada 31 Januari 1926. Gagasan ini muncul di tengah kekhawatiran para ulama akan keberlangsungan praktik Islam tradisional di Indonesia, yang pada waktu itu menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial. Di kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah, para ulama dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Madura, berkumpul untuk mendiskusikan langkah-langkah yang perlu diambil untuk melestarikan tradisi keagamaan mereka.

Pada saat NU didirikan, Indonesia telah memiliki beberapa organisasi Islam yang telah berperan dalam pemikiran dan pergerakan sosial. Di antaranya Nahdlatul Wathan yang muncul pada 1916 dan Nahdlatul Fikri, yang berfokus pada kebangkitan pemikiran. Kemudian pada 1918, berdiri Nahdlatut Tujjar yang menyangkut pergerakan ekonomi. Masuk ke tahun 1926, organisasi-organisasi tersebut kembali berkumpul untuk mempertahankan praktik Islam tradisional yang mulai terancam. Namun, usulan ini ditolak oleh kelompok reformis, yang mendorong ulama untuk mencari jalan sendiri.

Momen penting inilah yang kemudian memberikan angin segar bagi para ulama untuk mengirimkan utusan ke Arab Saudi, yang kala itu dipimpin oleh Raja Ibnu Saud. Utusan ini bertujuan untuk mengkomunikasikan praktek keagamaan Islam tradisional di Indonesia dan memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok yang ingin melestarikan tradisi tersebut. Dengan langkah berani ini, KH Hasyim Asy'ari dan kawan-kawan bertekad untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai Islam yang telah berakar kuat di masyarakat. Ini menjadi refleksi bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tantangan yang dihadapi komunitas Muslim di Blitar dan seluruh Indonesia hingga saat ini.