- Kampung Siluman di Gunung Kelud dikenal sebagai bekas permukiman dengan sejarah yang kaya.
- Akses ke kampung ini hanya melalui terowongan sempit yang dibangun pada masa kolonial Belanda.
- Kisah-kisah mistis dan legenda lokal terus hidup di antara masyarakat sekitar.
BLITAR – Keberadaan Kampung Siluman di lereng Gunung Kelud kembali mencuri perhatian publik setelah sebuah video viral memperlihatkan bekas permukiman terpencil yang menyimpan banyak cerita yang berakar pada sejarah dan mitos lokal. Terletak di tengah hutan yang rimbun, kampung ini dulunya dihuni oleh tujuh kepala keluarga yang berinteraksi erat dengan lingkungan sekitarnya, serta memiliki akses masuk yang unik, yakni terowongan sepanjang lebih dari 100 meter yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.
Hingga saat ini, meskipun kampung ini telah ditinggalkan selama puluhan tahun, bangunan peninggalan terdahulu seperti musala dan sisa-sisa rumah masih dapat ditemukan. Menurut Pak Tari, seorang warga setempat yang lahir dan besar di kawasan itu, kampung tersebut memang menyimpan banyak kenangan. Ia mengingat bagaimana akses ke kampung tersebut hanya dapat dilakukan melalui terowongan sempit, yang menjadikannya sebuah perjalanan tersendiri bagi para penduduk.
Pak Tari menceritakan bahwa perjalanan menuju sekolah saat ia masih kecil memerlukan waktu sekitar satu jam berjalan kaki melalui jalur hutan, menunjukkan betapa terpencilnya lokasi tersebut. Masyarakat setempat kini menyebutnya Kampung Siluman, sebuah nama yang menggambarkan keangkeran serta aura mistis yang menyelimuti tempat ini. Beragam legenda dan cerita rakyat terkait keberadaan kampung ini terus berkembang, meningkatkan rasa penasaran dan ketertarikan banyak orang untuk mengeksplorasi sisa-sisa sejarah yang tertinggal di tengah keindahan alam Blitar.
Dengan latar belakang yang kaya dan misteri yang terus menarik perhatian, Kampung Siluman di Gunung Kelud menjadi saksi bisu bagi perjalanan sejarah Blitar, sekaligus pengingat akan masa lalu yang penuh cerita. Invasi alam dan waktu mungkin telah mengubah banyak hal, tetapi jejak sejarah dan kisah-kisah yang ada di dalamnya tetap hidup di ingatan dan lisan masyarakat.