Senin, 10 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Menghadapi Standar Kecantikan: Novitasari Ajak Gen Z Blitar Rayakan Keberagaman Melalui Skin Positivity

Menghadapi Standar Kecantikan: Novitasari Ajak Gen Z Blitar Rayakan Keberagaman Melalui Skin Positivity

Menghadapi Standar Kecantikan: Novitasari Ajak Gen Z Blitar Rayakan Keberagaman Melalui Skin Positivity
Poin Penting:
  • Gerakan skin positivity mengajak masyarakat untuk menerima keberagaman warna kulit.
  • Standar kecantikan yang mengarah pada kulit putih merupakan konstruk sosial yang telah ada lama.
  • Fenomena ini turut mempengaruhi perilaku remaja dalam menggunakan produk kecantikan untuk diterima dalam kelompok.

Di tengah gempuran standar kecantikan yang dipromosikan di era digital, gerakan skin positivity mulai menyeruak sebagai alternatif. Untuk remaja dan generasi Z di Blitar, tampilan ideal yang sering dijumpai di media sosial — kulit putih, mulus, dan tanpa cela — tak jarang menimbulkan perasaan insecure. Masyarakat khususnya perempuan muda merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi yang ada demi mendapatkan pengakuan sosial yang dianggap berharga.

Namun, melalui skin positivity, ada ajakan untuk merayakan keberagaman warna dan kondisi kulit yang ada di masyarakat. Gerakan ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri dengan cara merobohkan batasan-batasan kaku yang selama ini dilekatkan pada definisi cantik. Disertai dengan gerakan self-love yang juga mendapatkan perhatian lebih di kalangan pengguna internet, skin positivity menciptakan ruang bagi individu untuk mencintai diri mereka sendiri, tanpa terikat pada norma-norma kecantikan yang sempit.

Novitasari, seorang dosen Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Blitar, menjelaskan bahwa anggapan bahwa kulit putih adalah simbol kecantikan bukan hanya sekadar preferensi individual, melainkan sebuah konstruk sosial yang telah bertahan lama. Berdasarkan teori sosial yang diterapkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, apa yang dianggap sebagai norma oleh masyarakat sering kali merupakan hasil pembentukan sosial yang terus diulang.

Ia mengisahkan pengalamannya sebagai remaja di tahun 2016, di mana penggunaan produk pemutih kulit menjadi trend yang umum di kalangan teman sebaya. Perilaku ini bukan hanya tercipta dari keinginan untuk tampil menarik, tetapi juga dari kebutuhan untuk diterima dalam komunitas sosial. Kini, dengan munculnya gerakan seperti skin positivity, harapannya adalah bahwa generasi muda di Blitar dapat menyadari dan mengapresiasi keindahan dalam berbagai bentuk serta warna kulit, yang selayaknya dirayakan bukan hanya sebagai sebuah tren, tetapi sebagai bagian dari keberagaman manusia itu sendiri.