Jumat, 14 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Menggali Tradisi Nogo Dino: Rahasia Perhitungan Hari dalam Primbon Jawa

Menggali Tradisi Nogo Dino: Rahasia Perhitungan Hari dalam Primbon Jawa

Menggali Tradisi Nogo Dino: Rahasia Perhitungan Hari dalam Primbon Jawa
Poin Penting:
  • Nogo Dino adalah perhitungan tradisional Jawa yang berkaitan dengan kekuatan hari.
  • Neptu hari dan pasaran menjadi dasar dalam menentukan arah perhitungan.
  • Perhitungan ini diakui sebagai panduan dalam pengambilan keputusan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Blitar, tradisi dan kearifan lokal adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek menarik dari budaya Jawa adalah perhitungan Nogo Dino atau Naga Dina, yang dipercaya dapat memberikan gambaran tentang kekuatan suatu hari. Dalam konteks Primbon Jawa, Nogo Dino menjadi acuan penting bagi masyarakat sebelum menjalani aktivitas besar, mulai dari bepergian, berdagang, hingga menggelar hajatan.

Proses perhitungan Nogo Dino dimulai dengan memahami neptu hari. Setiap hari dalam minggu memiliki nilai tertentu: Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Setelah itu, masyarakat juga perlu mengenali nilai pasaran, yang terdiri dari Legi (5), Pahing (9), Pon (7), Wage (4), dan Kliwon (8). Keduanya, neptu hari dan pasaran, kemudian dijumlahkan. Sebagai contoh, kombinasi Sabtu Legi menghasilkan angka 14, yang menjadi dasar perhitungan selanjutnya.

Setelah didapatkan hasil penjumlahan, perhitungan Nogo Dino dilakukan dengan cara mengurutan arah yang dimulai dari timur atau wetan. Dalam hal ini, urutannya adalah timur, selatan, barat, dan utara, yang kemudian diulang. Misalnya, untuk nilai 14 pada Sabtu Legi, arah yang ditempuh adalah timur, selatan, barat, utara, dan kembali lagi ke timur. Proses ini membantu masyarakat untuk mengantisipasi kekuatan yang membawa keberuntungan atau bahkan menjauhkan diri dari arah yang dianggap kurang baik.

Hasil dari perhitungan ini, yang mencakup juga patine dina atau 'matinya hari', menjadi panduan yang tak kalah penting. Masyarakat lokal sangat menghargai nilai-nilai ini, dan sering kali melibatkan perhitungan semacam ini dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Dengan menjaga tradisi ini tetap hidup, generasi sekarang di Blitar bukan hanya melestarikan kearifan lokal tetapi juga membangun rasa kebersamaan yang kuat dalam komunitas.