- Ada 22 spesies anggrek bulan di Indonesia dengan karakter yang beragam.
- Phalaenopsis amabilis adalah bunga nasional Indonesia dan mudah dirawat.
- Beberapa spesies anggrek bulan lebih menyukai kondisi sejuk atau dingin.
Di Indonesia, anggrek bulan ternyata merupakan kelompok tanaman yang sangat beragam, tidak hanya sekadar satu jenis dengan tampilan serupa. Dalam forum yang diadakan di Tri Orchid, Parongpong, Lembang, Bandung, Adi De Orch membahas 22 spesies anggrek bulan yang memiliki karakteristik berbeda, dari ukuran bunga, bentuk daun, corak, hingga habitat yang diperlukan untuk dapat berkembang dengan baik.
Memasuki musim transisi dari kemarau ke hujan, banyak spesies anggrek mulai menunjukkan keindahan bunga mereka. Hal ini tentu menjadi kesempatan berharga bagi botanis maupun pecinta tanaman untuk mempelajari lebih dalam mengenai berbagai karakter anggrek bulan yang ada. Dari ribuan anggrek yang ada, terdapat spesies yang dapat tumbuh di dataran rendah yang panas serta spesies lainnya yang lebih menyukai daerah dengan suhu sejuk atau dingin.
Salah satu yang paling populer adalah Phalaenopsis amabilis, yang dikenal sebagai bunga nasional Indonesia, dengan ukuran bunga sekitar 10 sentimeter. Anggrek ini tidak hanya memiliki keindahan yang menawan, tetapi juga mudah dirawat, menjadikannya pilihan ideal bagi pemula. Harga untuk mendapatkan Phalaenopsis amabilis pun terjangkau, berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000.
Sementara itu, Phalaenopsis fimbriata memiliki bunga yang lebih kecil, sekitar 4 sentimeter, dan dapat ditemui di ketinggian antara 700 hingga 1.300 meter di Pulau Jawa dan Sumatera, cocok untuk lingkungan yang lebih dingin. Begitu pula dengan Phalaenopsis javanica yang menyukai cuaca sejuk dengan bunga berukuran sekitar 3 sentimeter. Berbeda dengan keduanya, Phalaenopsis deliciosa tumbuh dengan baik di daerah panas, asalkan mendapat naungan dari sinar matahari langsung dan dapat menghasilkan bunga sekitar 2 sentimeter. Keberagaman ini menjadikan anggrek bulan tidak hanya menarik untuk dipelajari, tetapi juga untuk dikembangkan di kebun-kebun masyarakat Blitar.