Kamis, 06 Agustus 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Menelusuri Sejarah Tulungagung: Dari Prasasti Lawadan hingga Pengaruh Airlangga

Menelusuri Sejarah Tulungagung: Dari Prasasti Lawadan hingga Pengaruh Airlangga

Menelusuri Sejarah Tulungagung: Dari Prasasti Lawadan hingga Pengaruh Airlangga
Poin Penting:
  • Sejarah Tulungagung lebih tua dibandingkan Majapahit dan memiliki catatan dari Kerajaan Medang.
  • Nama Tulungagung berasal dari bahasa Kawi yang mencerminkan peran pentingnya sebagai sumber air.
  • Ratu Diah Tulodong menjadi penguasa perempuan yang kuat dan berperan dalam sejarah politik di Jawa Timur.

TULUNGAGUNG – Sejarah Kabupaten Tulungagung memiliki akar yang lebih dalam dan kompleks dibandingkan dengan era kejayaan Majapahit. Penelusuran awal mengenai daerah ini dapat ditemukan sejak era Kerajaan Medang yang berdiri pada abad ke-9, terus berkembang di bawah kepemimpinan raja legendaris Airlangga, dan mencapai puncak pentingnya melalui Prasasti Lawadan yang ditetapkan pada 18 November 1205 Masehi. Prasasti ini tidak hanya merekam momen sejarah, tetapi juga menjadi titik acuan dalam penetapan Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.

Nama Tulungagung sendiri diambil dari bahasa Kawi, yang berarti "pertolongan besar", mencerminkan peran historisnya sebagai sumber air dan kehidupan. Sebelum dikenal dengan nama kini, wilayah ini disebut Nerawa, merupakan sebuah daerah rawa yang luas dan berfungsi sebagai wilayah strategis dalam konteks kerajaan-kerajaan di Jawa. Penemuan Prasasti Penampihan I yang dikeluarkan pada tahun 898 Masehi menegaskan bahwa kawasan ini telah memiliki sistem pemerintahan yang mandiri, jauh sebelum terbentuknya struktur pemerintahan kabupaten yang kita kenal saat ini.

Kisah sejarah Tulungagung juga melibatkan penduduk Gunung Wilis yang berperan penting saat mempertahankan Raja Balitung dari serangan Kerajaan Kanjuruhan. Sebagai penghargaan atas jasa mereka, tanah perdikan diberikan kepada kawasan ini, memperkuat makna pemahaman masyarakat mengenai kota mereka sebagai "pemberi pertolongan besar". Dalam sejarah yang lebih lanjut, pada abad ke-11, wilayah yang saat ini dikenal sebagai Tulungagung berganti nama menjadi Lodoyong dan dipimpin oleh Ratu Diah Tulodong, sosok perempuan kuat yang menjadi pesaing tangguh bagi Raja Airlangga. Ratu ini berjasa dalam pertahanan Lodoyong pada tahun 1032 Masehi.

Permusuhan di antara mereka tidak berlangsung lama, setelah Airlangga berhasil menaklukkan Lodoyong, ia memilih untuk tidak menghabisi Ratu Diah Tulodong dan malah menjadikannya sebagai sekutu. Kolaborasi ini ditandai dengan pembangunan bendungan besar Waringin Sapta, sebuah proyek hidrologi inovatif pada masa itu, demi mengatasi banjir Sungai Brantas yang berpotensi merusak pertanian di wilayah Brang Kidul. Pertanian yang telah lama menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Tulungagung pun semakin berkembang berkat upaya ini. Dengan menelusuri sejarah yang kini menjadi bagian integral dari identitas Tulungagung, kita dapat melihat bukan hanya sejarah, tetapi juga dinamisnya interaksi masyarakat dalam membentuk daerah ini.