Jumat, 11 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pendidikan & Budaya Mama Falak Pagentongan: Ulama Berpengaruh yang Menjadi Penasehat Bung Karno

Mama Falak Pagentongan: Ulama Berpengaruh yang Menjadi Penasehat Bung Karno

Mama Falak Pagentongan: Ulama Berpengaruh yang Menjadi Penasehat Bung Karno
Poin Penting:
  • Bung Karno mencari nasihat spiritual dari Mama Falak di tengah gejolak revolusi.
  • Mama Falak dikenal sebagai ulama dan ahli falak berpengaruh dari Pagentongan, Bogor.
  • Keturunan dari Kesultanan Banten memberikan latar belakang historis yang kuat pada sosok Mama Falak.

Di tengah dinamika Revolusi Fisik Indonesia antara tahun 1945 dan 1949, sosok proklamator Bung Karno tampaknya tidak hanya mencari strategi untuk menghadapi masalah politik dan keamanan, tetapi juga memerlukan ketenangan batin. Dalam pencariannya tersebut, Bung Karno diketahui mendatangi seorang ulama sepuh asal Pagentongan, Bogor, yaitu K. H. Tubagus Muhammad Falaq Abbas, yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Falak Pagentongan. Mama Falak dikenal luas tidak hanya karena kemampuannya dalam ilmu agama, tetapi juga keahlian khususnya dalam ilmu falak atau astronomi Islam.

Kehidupan awal Mama Falak dimulai di Saniwara, Desa Sempur, Paledang, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada tahun 1842. Berdasarkan catatan manakib yang diakuinya sendiri, Mama Falak merupakan putra dari K. H. Tubagus Abbas dan Ratu Quraisin, yang memiliki garis keturunan dari Kesultanan Banten. Nama Tubagus yang ia bawa menandakan haknya sebagai pewaris sejarah dan kultur daerah. Dalam perjalanan pendidikannya, Mama Falak mengenyam ilmu dari ayahnya, melanjutkan ke berbagai pesantren di Banten dan Cirebon, sebelum akhirnya memilih Makkah sebagai tempat menuntut ilmu tingkat lanjutnya di usia belia, sekitar 15 tahun.

Di Makkah, Mama Falak terlibat aktif dalam komunitas ulama Jawi, di mana ia belajar dari beberapa guru besar, termasuk Syekh Nawawi Al-Bantani. Pengalaman belajar di Tanah Suci semakin memperdalam pengetahuannya, terutama dalam ilmu falak yang berkaitan dengan pergerakan benda langit. Keahlian ini sangat berharga untuk menentukan waktu-waktu utama dalam ibadah, seperti salat dan Ramadan. Berkat kemahirannya, ia pun memperoleh gelar Falaq, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitasnya sebagai K. H. Tubagus Muhammad Falaq.

Penting untuk dicatat bahwa peran Mama Falak tidak hanya terbatas pada aspek spiritual, tetapi ia juga menjadi salah satu rujukan bagi pengambil keputusan di Tanah Air, termasuk Bung Karno. Nasihat dan kedamaian yang ia tawarkan menjadi bagian dari proses menuju kemerdekaan yang penuh tantangan. Mengingat latar belakang dan kontribusinya yang sangat penting, Mama Falak Pagentongan patut menjadi figur yang dikenang dalam konteks sejarah dan spiritual bagi kita semua, terutama masyarakat Blitar yang mengapresiasi nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.