- Jarak pandang di Palangkaraya menurun di bawah 100 meter akibat kabut asap dari kebakaran hutan.
- Kebakaran telah berlangsung selama tiga bulan dan menyebabkan lebih dari 10.000 kasus ISPA.
- Tim gabungan terus berupaya memadamkan api meskipun karakteristik lahan gambut menghambat proses pemadaman.
Palangkaraya, Kalimantan Tengah - Kondisi kabut asap yang menyelimuti Palangkaraya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus memprihatinkan, bahkan jarak pandang di Jalan Mahir Mahar, jalur Trans Kalimantan, tercatat turun menjadi kurang dari 100 meter. Situasi ini tidak hanya membahayakan pengendara, tetapi juga berpotensi memperburuk kualitas udara di kawasan tersebut dan mengganggu aktivitas harian masyarakat. Dalam waktu tiga bulan terakhir, kebakaran di wilayah ini telah melahirkan lebih dari 10.000 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di kalangan penduduk, yang menunjukkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Di beberapa lokasi, seperti Desa Tumbang Nusa dan Jalan Cilik Riwut Km 48, pengemudi kendaraan harus menghadapi kabut tebal yang mengubah suasana menjadi kekuningan. Kewaspadaan di jalan meningkat, di mana sejumlah pengendara bahkan terpaksa menyalakan lampu kendaraan di siang hari untuk meningkatkan visibilitas. Muhammad Sema, seorang sopir truk tangki, menyatakan bahwa kondisi ini sangat mengkhawatirkan, karena asap yang pekat mengganggu pernapasan dan membatasi jarak pandang, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalulintas.
Situasi ini menjadi sorotan, lantaran jarak pandang yang di bawah 100 meter sangat berbahaya, terutama bagi kendaraan besar yang membutuhkan ruang pengereman lebih panjang. Bukan hanya pengemudi yang merasakan dampaknya, masyarakat yang tinggal di sepanjang kawasan yang terdampak juga mengalami hambatan dalam kegiatan sehari-hari akibat kabut asap yang menyesakkan. Upaya penanggulangan dari tim gabungan TNI, Polri, serta pemerintah baik provinsi maupun daerah tetap dilakukan untuk memadamkan api di titik-titik kebakaran, meskipun kendala lahan gambut yang memungkinkan api bertahan di bawah permukaan tanah kerap menghambat proses pemadaman. Hal ini menyebabkan bara api di dalam tanah masih bisa memunculkan asap dan mengakibatkan kebakaran berulang, yang tentu semakin memperparah kondisi kabut asap di Palangkaraya.