- IHSG mengalami penurunan 1,34% dipengaruhi kebijakan tarif baru AS dan konflik Timur Tengah.
- Kebijakan tarif Trump dapat berdampak negatif bagi negara mitra dagang seperti Indonesia.
- Lonjakan harga minyak mentah global menambah risiko inflasi dan memengaruhi kestabilan ekonomi.
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpantau pada perdagangan hari ini mengalami penurunan signifikan hingga 1,34% ke level 6.290. Anjloknya IHSG ini tak terlepas dari pengaruh faktor eksternal, khususnya dampak dari kebijakan tarif impor terbaru yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta meningkatnya ketegangan dalam konflik di Timur Tengah.
Dikenal dengan kebijakan proteksionisme, tarif baru yang dijatuhkan Trump berkisar antara 10% hingga 12,5% terhadap 60 negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kenaikan tarif ini diharapkan dapat mendorong reindustrialisasi di AS dan mengurangi defisit perdagangan, namun berpotensi menyebabkan dampak negatif bagi negara-negara lain, terutama yang bergantung pada ekspor.
Keadaan semakin diperburuk dengan lonjakan harga minyak mentah dunia yang saat ini telah menembus angka 100 dolar AS per barel, akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memengaruhi jalur distribusi energi. Situasi ini memicu kekhawatiran akan pasokan energi global yang lebih berisiko dan meningkatkan kemungkinan terjadinya inflasi lebih lanjut.
Dalam konteks ekonomi Indonesia, meskipun menghadapi tantangan dari pasar global, Bank Indonesia melaporkan bahwa total uang beredar dalam arti luas (M2) telah mencapai Rp10.432 triliun pada bulan Juni 2026, mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 8,7%. Selain itu, pemerintah juga berhasil mengumpulkan dana sebesar 7 miliar yuan (sekitar Rp18,4 triliun) melalui penerbitan Panda Bond, menunjukkan adanya minat investor China yang tinggi untuk berinvestasi di pasar Indonesia. Hal ini memberikan harapan baru dalam upaya menutupi defisit APBN di tahun fiskal ini.