- Pasangan Choirul dan Riza membawa boneka unta sebagai simbol kasih sayang untuk anak-anak mereka.
- Perjalanan haji Choirul merupakan hasil dari penantian selama lebih dari satu dekade.
- Ibadah haji memberikan tantangan fisik, namun tetap dipenuhi semangat dan makna mendalam.
Kepulangan jemaah haji dari Kota Blitar selalu menjadi momen yang dinantikan, di mana berbagai oleh-oleh khas seperti air zamzam, kurma, dan kacang Arab menjadi hal umum yang dibawa pulang. Namun, dalam rombongan jemaah haji Kloter 106 yang baru saja kembali ke tanah air, terdapat sebuah pemandangan yang berbeda dan mengharukan. Muhammad Choirul Anam dan Riza Mufarohah, pasangan suami istri asal Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, memilih membawa dua boneka unta berwarna kuning dari Madinah sebagai oleh-oleh untuk kedua anak mereka yang telah setia menanti selama 40 hari. Boneka unta tersebut bukan sekadar barang, melainkan simbol kasih sayang dan pengingat akan perjalanan spiritual yang telah dilalui pasangan ini.
Bagi Muhammad Choirul Anam, perjalanan ke Tanah Suci merupakan hasil dari penantian yang panjang. Sejak mendaftarkan diri untuk berhaji pada tahun 2012, ia dan keluarganya harus menunggu hingga kini dapat berangkat. Istrinya, Riza, yang mendaftar pada tahun 2019, akhirnya bisa ikut berangkat bersamanya melalui jalur penggabungan mahram. Kesempatan untuk menjalankan ibadah haji di usia relatif muda menjadi pengalaman yang sangat berharga dan disyukuri, dengan keinginan untuk menghantarkan semua doa dan harapan dari mereka yang tidak bisa melakukan perjalanan ini.
Proses ibadah haji yang menguras fisik menjadi tantangan tersendiri bagi Choirul. Ia harus berjalan kaki setidaknya enam kilometer setiap hari dari terminal bus menuju Masjidil Haram. Hal ini menjadi semakin berat ketika mengetahui adanya jemaah lanjut usia yang tetap berjuang menyelesaikan ibadah mereka dengan semangat yang tinggi. Dedikasi dan ketekunan para jemaah dalam menjalani proses suci ini menunjukkan betapa besar keinginan untuk mendapatkan berkah dan pengampunan dalam perjalanan menuju Baitullah. Kembali ke rumah dengan membawa oleh-oleh yang menyimpan makna mendalam, sekaligus harapan agar dapat lebih dekat dengan keluarga yang ditinggalkan selama berangkat haji.