- Cuaca ekstrem mempengaruhi kesehatan ikan budi daya di Blitar.
- Dinas Perikanan meminta pembudi daya mengurangi kepadatan kolam untuk mengurangi risiko penyakit.
- Kasus kematian ikan lele di Selopuro menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat.
Cuaca ekstrem yang ditandai oleh perubahan suhu yang drastis kini menjadi perhatian serius bagi pengusaha budi daya ikan di Kabupaten Blitar. Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi suhu dingin yang terjadi terutama pada musim kemarau telah membuat ikan-ikan budi daya menjadi lebih rentan terhadap stres dan penyakit. Situasi ini menuntut tindakan preventif dari para pembudi daya untuk menjaga kesehatan ikan sekaligus mempertahankan produksi mereka.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mengimbau kepada para pembudi daya ikan untuk lebih berhati-hati dan memperhatikan kepadatan kolam. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan suhu air dari dingin ke panas secara cepat dapat menurunkan daya tahan tubuh ikan, sehingga membuka peluang bagi penyakit dan serangan parasit. Pembudi daya ikan perlu mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi risiko tersebut, seperti menjaga kesehatan lingkungan kolam dan mengatur jumlah ikan per kolam agar tidak terlalu padat.
Arief Mustakim, Manajer Laboratorium Ikan di Disnakkan Kabupaten Blitar, mengungkapkan bahwa masalah ini sudah mulai terlihat dengan adanya laporan kematian ikan di berbagai lokasi. Salah satu insiden yang menarik perhatian adalah kematian benih ikan lele di Kecamatan Selopuro pada bulan Juli lalu. Hasil pemeriksaan terhadap sampel ikan lele yang mati menunjukkan adanya indikasi serangan parasit, yang semakin menegaskan pentingnya tindakan preventif oleh pembudi daya. Dengan perhatian dan tindakan yang tepat, diharapkan sektor budi daya ikan di Kabupaten Blitar dapat bertahan dan berkembang meskipun di tengah cuaca yang tidak menentu.