- Anita Nur Laili, seorang remaja Blitar bermimpi menjadi guru setelah keluar dari sekolah.
- Ia diterima dalam program Sekolah Rakyat, yang dirancang untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin.
- Kehidupan keluarganya penuh perjuangan, dengan ibunya bekerja sebagai buruh setrika kiloan.
Anita Nur Laili, seorang remaja berusia 16 tahun asal Jalan Jawa, Kelurahan Sananwetan, Kota Blitar, memiliki mimpi yang sempat terbenam di dalam dirinya untuk menjadi seorang guru. Mimpi tersebut terhalang ketika Anita, setelah lulus SMP, memilih untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga yang tergolong kurang mampu, alih-alih melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Namun, kabar baik datang setelah ia diterima sebagai peserta dalam program pendidikan gratis berasrama, Sekolah Rakyat, yang digagas oleh pemerintah.
Program Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan mereka yang terpaksa putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Dengan adanya program ini, Anita kini kembali memiliki kesempatan untuk mengejar cita-citanya dan mendapatkan pendidikan yang layak. Setelah setahun meninggalkan bangku sekolah, harapan baru pun muncul dalam hidupnya, membangkitkan semangat dan keyakinan untuk menghadapi masa depan.
Kehidupan Anita dan keluarganya tidaklah mudah. Di sebuah rumah sederhana, yang di depan pintunya terpasang stiker bertuliskan "Keluarga Kurang Mampu", mereka berjuang setiap hari. Ibunya, Uswatun Chasanah, bekerja sebagai buruh setrika kiloan, di mana ia mengandalkan penghasilannya sebesar Rp 2.500 per kilogram pakaian. Dalam satu hari, Uswatun dapat menghasilkan sekitar Rp 50 ribu, jumlah yang sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kini, dengan bergabungnya Anita ke Sekolah Rakyat, harapan untuk mengubah nasib dan menggapai cita-cita menjadi seorang pendidik menjadi semakin nyata.
Kesempatan ini bukan hanya sekadar jalan kembali ke pendidikan, tetapi juga menjadi symbol perjuangan bagi Anita dan keluarganya untuk keluar dari keterbatasan. Melalui Sekolah Rakyat, Anita bertekad untuk tidak hanya menjadi seorang guru, tetapi juga inspirasi bagi anak-anak lain di Blitar yang memiliki impian namun terhalang oleh keadaan.