Demo Penuntutan Keadilan untuk Pengemudi Ojol Berakhir Ricuh, Polisi Luncurkan Gas Air Mata
Jakarta, 29 Agustus 2023 – Demonstrasi yang digelar oleh ratusan pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta berujung ricuh ketika aparat kepolisian meluncurkan gas air mata untuk membubarkan massa. Aksi ini dilatarbelakangi kemarahan masyarakat atas kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol, yang tewas setelah dilindas oleh kendaraan taktis Brigade Mobil (Brimob).
Media internasional seperti Channel NewsAsia dari Singapura, France24 dari Prancis, dan Al Jazeera dari Qatar melaporkan kejadian ini secara mendalam, menunjukkan perhatian global terhadap situasi yang tengah berlangsung di Indonesia. Channel NewsAsia bahkan menyiarkan langsung kejadian tersebut di situs mereka dengan judul “Polisi Indonesia luncurkan gas air mata ke pedemo di Jakarta.”
Dalam aksi tersebut, massa berkumpul di depan Markas Komando (Mako) Brimob di Kwitang, Jakarta, serta beberapa daerah lain seperti Solo, Yogyakarta, dan Surabaya. Demonstrasi ini bukan hanya menuntut keadilan bagi Affan, tetapi juga menggambarkan frustrasi masyarakat terhadap kebrutalan aparat yang terus berlanjut.
Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, mengungkapkan bahwa kemarahan pengunjuk rasa merupakan cerminan dari banyaknya kasus penggunaan kekuatan berlebih oleh kepolisian. “Kasus pengemudi ojek online ini hanyalah salah satu dari sekian banyak insiden yang menunjukkan kelalaian dan ketidakadilan. Sudah terlalu banyak pengaduan serupa yang muncul di berbagai daerah, termasuk Papua Barat,” ujar Usman dalam sebuah wawancara.
Abigail Limura, Pendiri platform sosial dan politik What Is Up, Indonesia?, menambahkan bahwa demonstrasi ini adalah puncak dari frustrasi yang telah dirasakan masyarakat akibat kondisi ekonomi dan politik yang memburuk. “Kondisi ekonomi yang buruk dan tingginya angka pengangguran telah menciptakan suasana ketidakpuasan. Respons aparat yang menghina terhadap aspirasi rakyat hanya memperburuk keadaan,” katanya.
Dalam beberapa hari terakhir, aksi-aksi serupa juga berlangsung di sekitar gedung DPR/MPR, di mana massa aksi mengkritik kebijakan terkait tunjangan rumah bagi anggota legislatif yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Kebijakan tersebut menjadi sorotan karena dianggap tidak sejalan dengan kondisi ekonomi masyarakat yang kian sulit.
Keseluruhan aksi ini menunjukkan bahwa masyarakat telah berada di ujung tanduk. Mereka meminta penegakan hukum yang lebih baik dan transparansi dari pemerintah. Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan antara aparat dan masyarakat masih belum teratasi, menciptakan kekhawatiran akan potensi munculnya bentrokan lebih lanjut.
Pengamatan ini bukan hanya menggambarkan insiden terkini, melainkan juga mencerminkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan. Keberanian untuk bersuara dan menuntut keadilan menjadi penting, namun demikian, respons yang diharapkan adalah dialog yang konstruktif, bukan tindakan represif yang semakin memperdalam luka sosial.
Sementara itu, media internasional terus memantau perkembangan situasi, mengingat protes ini dapat menjadi titik balik dalam hubungan antara masyarakat sipil dan aparat keamanan di Indonesia. Dengan besarnya perhatian global terhadap masalah ini, diharapkan pihak berwenang akan mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih inklusif dan berkeadilan dalam menanggapi aspirasi rakyat.