- Program Sekolah Rakyat masih kesulitan menurunkan angka anak tidak sekolah yang mencapai 4 juta.
- Pola pengasuhan dan disiplin di Sekolah Rakyat membutuhkan perbaikan untuk mendukung kebutuhan siswa.
- Pentingnya integrasi sistem pendidikan untuk menjangkau anak-anak yang tidak bersekolah.
Program Sekolah Rakyat, yang dirancang untuk meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari kelompok ekonomi terendah, tampaknya belum memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia. Menurut Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, jumlah anak tidak sekolah masih stagnan di sekitar 4 juta, sementara daya tampung Sekolah Rakyat belum mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Dalam evaluasi yang dilakukan, ditemukan bahwa beberapa siswa yang terdaftar di Sekolah Rakyat merupakan anak-anak yang sebelumnya sudah bersekolah di institusi lain, seperti sekolah swasta dan madrasah. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut tidak mencapai target yang diharapkan, yaitu mengakomodasi anak-anak yang benar-benar tidak bersekolah.
Di sisi lain, pola pengasuhan dan disiplin yang diterapkan di Sekolah Rakyat juga menjadi sorotan, dimana sistem asrama yang ada terkadang berujung pada pengunaan metode yang tidak sesuai. Ubaid menegaskan perlunya pelatihan khusus untuk guru asuh agar mereka dapat memberikan pendekatan disiplin yang lebih positif tanpa menggunakan kekerasan. Serta, pemilihan lokasi pembangunan Sekolah Rakyat yang tidak memperhitungkan kebutuhan pendidikan di area sekitar membuat banyak anak lebih memilih sekolah negeri atau madrasah yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Lebih jauh, pembagian sistem penerimaan siswa yang memisahkan Sekolah Rakyat dari sekolah reguler dapat menimbulkan stigma bahwa Sekolah Rakyat adalah opsi terakhir bagi siswa yang gagal masuk sekolah negeri. Ubaid menyarankan agar pemerintah mengintegrasikan semua layanan pendidikan yang ada untuk menciptakan pilihan pendidikan yang lebih inklusif dan efektif. Dengan langkah ini, diharapkan anak-anak yang saat ini tidak bersekolah dapat terjangkau lebih cepat dan memutus rantai kemiskinan yang ada di masyarakat.
Dari aspek kesejahteraan guru, terdapat banyak keluhan yang disampaikan oleh orang tua terkait respons guru terhadap kebutuhan anak. Ubaid mengungkapkan bahwa lebih dari 90 persen guru asuh di Sekolah Rakyat belum memiliki keterampilan pengasuhan yang memadai. Dengan menghadapi tantangan-tantangan ini, evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada menjadi kunci agar Sekolah Rakyat dapat berfungsi sebagai alternatif yang efektif dalam penyediaan pendidikan di Indonesia.