- Pemilihan batu yang sesuai sangat penting untuk penataan bonsai Santigi.
- Proses pengikatan akar dan batang harus dilakukan secara teliti untuk mencapai hasil yang optimal.
- Penggunaan moss membantu menjaga kelembapan akar dan mendukung pertumbuhan bonsai.
Di era modern ini, seni bonsai semakin diminati dan menjadi salah satu bentuk ekspresi artistik yang menarik. Bagi masyarakat Blitar, bonsai Santigi dengan konsep 'on the rock' menawarkan keunikan tersendiri dalam penataannya. Proses penciptaan bonsai ini dimulai dengan pemilihan batu yang memiliki karakteristik menarik dan sesuai dengan tanaman bonsai yang akan digunakan. Setiap batu tidak hanya harus menarik secara visual tetapi juga harus dipastikan posisinya dalam pot stabil, agar tidak mudah jatuh atau tergeser. Oleh karena itu, bagian bawah batu sering kali diratakan menggunakan alat grinder untuk menjamin kestabilan alaminya.
Setelah batu siap, perhatian beralih pada tanaman bonsai Santigi yang biasanya berasal dari cangkokan. Penting untuk memastikan bahwa tanaman memiliki akar yang cukup sebelum dipisahkan dari induknya. Proses pemotongan dan pemasangan kawat hingga pengaturan arah batang dilakukan dengan hati-hati, mengikuti desain yang diinginkan. Pada penataan ini, tanaman diarahkan ke bawah sesuai dengan bentuk batu, dengan batang yang ditekuk dan akar yang dijuntai menambah pesona dari komposisi keseluruhan bonsai.
Pengelolaan akar bonsai merupakan elemen krusial dalam menciptakan keindahan visual. Akar yang diarahkan ke bawah biasanya diberi lapisan moss, yang berfungsi untuk menjaga kelembapan sekaligus memfasilitasi pertumbuhan akar. Moss ini dibuat dari serabut kelapa yang dicacah dan dibasahi, sehingga dapat dengan baik menjaga kondisi akar tanaman. Seni dalam menata bonsai Santigi di atas batu ini tidak hanya menunjukkan keindahan alam, tetapi juga mencerminkan kesabaran dan ketrampilan dari para pengrajinnya, menjadikan bonsai ini sebagai salah satu hiasan yang sangat berarti bagi penghuni Blitar.