- Bung Karno lahir di Surabaya dan mendapat pendidikan yang mempengaruhi perjuangannya.
- Ia menemukan ide Marhaenisme melalui interaksi dengan rakyat kecil.
- Bung Karno mendirikan PNI dan berkontribusi pada Sumpah Pemuda yang mengedepankan persatuan.
SURABAYA - Perjalanan heroik Bung Karno dalam menggapai kemerdekaan Indonesia merupakan cerminan dari keteguhan dan dedikasi seorang pemimpin yang lahir di tengah penjajahan. Lahir dengan nama Kusno Sosrodiharjo pada 6 Juni 1902 di Desa Peneleh, Surabaya, Bung Karno merupakan anak dari keluarga priayi yang diberi akses untuk mendapatkan pendidikan, sebuah keistimewaan di masa kolonial. Keberadaan di lingkungan pendidikan elit tersebut mengantarkannya ke dalam dunia yang membuka wawasan baru tentang berbagai ideologi, terutama nasionalisme dan sosialisme.
Ketika berusia 15 tahun, Bung Karno dititipkan tinggal bersama Haji Umar Said Cokroaminoto, seorang pemimpin Sarekat Islam, di Surabaya, tempat di mana ia berinteraksi dengan banyak tokoh penting. Pengalaman ini memberikan pengaruh besar dalam membentuk pandangannya tentang perjuangan kemerdekaan. Dalam suasana diskusi yang hangat di rumah Cokroaminoto, Bung Karno mulai menulis kritik terhadap kebijakan diskriminasi Belanda di harian Utusan Hindia, menggunakan nama samaran Bima. Hal ini menunjukkan semangatnya untuk berjuang melawan ketidakadilan.
Setelah berpindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool, ia bertemu dengan sosok petani miskin bernama Marhaen, yang melahirkan ide Marhaenisme, sebuah gagasan yang mengedepankan sosialisasi untuk rakyat kecil. Di Bandung, Bung Karno juga ikut serta dalam mendirikan Algemeene Studieclub yang memperjuangkan aspirasi mahasiswa pribumi. Kehidupan pribadinya yang kompleks juga tak kalah menarik; setelah dua kali menikah, ia akhirnya bersatu dengan Inggit Garnasih, yang menjadi pendamping di masa-masa sulit perjuangannya.
Bung Karno memainkan peran sentral dalam membangun kesadaran politik melalui Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan pada tahun 1927. PNI menjadi motor bagi gerakan nasionalisme Indonesia dan berperan penting dalam peristiwa Sumpah Pemuda yang mengukuhkan semangat persatuan. Namun, upayanya tak luput dari tantangan; penangkapan dan vonis penjara menjadi bagian dari perjalanan panjangnya, di mana ia tetap tegar menyuarakan tuntutannya dalam pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Perjalanannya yang penuh lika-liku ini bukan hanya menggambarkan cita-citanya dalam memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa, termasuk di Blitar, untuk terus berjuang demi keadilan dan kemandirian.