- Mbah Sumarmi, nenek 93 tahun, menjadi tulang punggung keluarga di Desa Pagerwojo.
- Ia merawat anak sulung yang lumpuh dan adik perempuannya sambil beternak kambing.
- Kisahnya viral di media sosial, menginspirasi banyak orang dengan keteguhan dan semangatnya.
Di Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, terdapat sosok inspiratif yang patut dicontoh oleh seluruh warga Blitar. Mbah Sumarmi, seorang nenek berusia 93 tahun, kini menjadi tulang punggung keluarga dengan keteguhan yang luar biasa. Dalam usia yang hampir mencapai seratus tahun, ia tetap memikul tanggung jawab besar merawat anak sulungnya, Heri Eko Supoyo, yang mengalami kelumpuhan selama lebih dari satu dekade, serta adik perempuannya yang juga mengalami sakit.
Kisah Mbah Sumarmi menjadi sorotan publik setelah videonya yang menunjukkan kebangkitan semangat hidupnya viral di media sosial, menarik perhatian banyak netizen. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan fisik, Mbah Sumarmi tidak hanya menjalankan rutinitas sehari-hari, tetapi juga mengelola usaha beternak kambing sebagai sumber penghidupan. Setiap pagi, setelah menyelesaikan ibadah dan menyiapkan makanan untuk keluarga, ia berangkat mencari rumput untuk pakan kambingnya, sembari memperhatikan semua kebutuhan anak dan saudaranya.
Heri Eko Supoyo, anak sulungnya, mengalami kelumpuhan setelah jatuh dari pohon sepuluh tahun lalu. Sejak saat itu, Mbah Sumarmi pun harus memberikan perhatian ekstra dan merawat kebutuhannya setiap hari. Selain menjadi pengasuh, Mbah Sumarmi juga berperan sebagai pendorong semangat bagi keluarganya, menunjukkan bahwa keteguhan hati dan kasih sayang dapat mengatasi tantangan yang teramat berat. Dengan usaha beternak kambing yang dikelolanya, Mbah Sumarmi tidak hanya berjuang untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang cinta dan pengorbanan dalam keluarga.