Selasa, 15 September 2026
SB
SuaraBlitar
Portal Berita Terkini Blitar, Wisata, Kuliner, Hukum, dan Informasi Publik seputar Blitar.
Beranda Pemerintahan Ganjar Pranowo: Pentingnya Integritas dalam Politik di Era Transaksional

Ganjar Pranowo: Pentingnya Integritas dalam Politik di Era Transaksional

Ganjar Pranowo: Pentingnya Integritas dalam Politik di Era Transaksional
Poin Penting:
  • Ganjar Pranowo mengingatkan akan pentingnya integritas dalam politik.
  • Politik transaksional dapat menciptakan skeptisisme di kalangan masyarakat.
  • Pendidikan politik dan penegakan hukum adalah kunci untuk memperkuat demokrasi.

Dalam sebuah forum di Jakarta, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, mengangkat isu penting mengenai politik transaksional yang terus menjadi tantangan dalam mengembangkan demokrasi Indonesia. Ia menekankan bahwa politik sejatinya harus dilandasi oleh prinsip-prinsip yang kuat, dan tidak semestinya dijalankan berdasarkan kepentingan transaksional semata. Menurutnya, ada aspek-aspek tertentu dalam politik yang seharusnya tidak dikompromikan atau dipertukarkan demi keuntungan jangka pendek.

Ganjar pun mengkritisi fenomena di mana faktor keuntungan menjadi prioritas dalam pengambilan keputusan politik. Ia merujuk pada istilah lokal 'wani piro', yang mengimplikasikan bagaimana pilihan politik sering dikaitkan dengan imbalan materiil. Hal ini, menurutnya, berpotensi menimbulkan dampak yang lebih serius terhadap sikap masyarakat terhadap dunia politik, mengakibatkan meningkatnya skeptisisme publik yang melihat proses politik sebagai transaksi yang semata-mata bertujuan untuk keuntungan individu.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Ganjar menyarankan perlunya pendidikan politik yang lebih baik bagi masyarakat. Penegakan hukum yang konsisten juga menjadi satu langkah krusial untuk mencegah praktik-praktik yang dapat merusak proses demokrasi, sehingga masyarakat dapat lebih kritis dan berdaya dalam menyikapi politik.

Lebih lanjut, Ganjar menekankan pentingnya memiliki prinsip yang jelas sebagai seorang politisi. Sebagaimana ditunjukkannya, ketika menjabat dalam pemerintahan, seorang pemimpin memiliki kapasitas untuk merumuskan kebijakan yang dapat berkontribusi terhadap pembangunan. Namun, ketika posisi tersebut tidak lagi dipegang, kontribusi politik masih dapat dilakukan melalui pengawasan dan kritik terhadap kebijakan yang diambil pemimpin lain. Dengan begitu, dukungan masyarakat kepada pemimpin tidak lantas menjadi pembenaran terhadap semua tindakan yang dilakukan, melainkan pengingat bahwa setiap pemimpin harus dapat dipertanggungjawabkan atas kebijakannya.