- IHSG diprediksi terkoreksi ke kisaran 5.500–6.000 pada kuartal IV 2026.
- Investor asing kemungkinan akan kembali pada 2027, tergantung prospek ekonomi.
- Perubahan komposisi indeks MSCI berdampak pada pergerakan saham, tetapi tidak mengindikasikan penurunan ekonomi secara keseluruhan.
JAKARTA - Dalam konteks pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah mengalami penurunan, banyak faktor yang perlu mendapatkan perhatian, salah satunya adalah dampak dari review MSCI. Kondisi ini diperburuk dengan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing, serta kekhawatiran yang muncul terkait kondisi fiskal dan transparansi pasar modal Indonesia. Praktisi pasar modal, Beni Batara Tumpal, memprediksi bahwa IHSG berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut, dengan kisaran antara 5.500 hingga 6.000 pada kuartal IV 2026. Meski begitu, ada harapan bahwa investor asing akan kembali memasuki pasar saham Indonesia, paling lambat pada kuartal II 2027, asalkan prospek ekonomi dan kepercayaan investor tetap terjaga.
Dalam sesi diskusi yang diadakan bersama Primus Dorimulu di kanal Primus IND, Beni menggarisbawahi bahwa penurunan harga saham tidak bisa diartikan sebagai indikasi bahwa perekonomian Indonesia sedang menuju bencana. Ia menjelaskan bahwa faktor-faktor seperti valuasi saham, perubahan komposisi indeks MSCI, dan ketidakpastian yang dirasakan investor terhadap risiko ekonomi ke depan, juga berkontribusi pada tekanan pasar saat ini.
Beni mengingatkan bahwa perubahan dalam komposisi indeks MSCI sering kali menyebabkan aksi jual terhadap saham-saham yang tercoret dari indeks tersebut. Hal ini dikarenakan banyak investor institusi yang menjadikan indeks sebagai acuan dalam pengelolaan portofolio investasi mereka. Ketidakberadaan suatu saham dalam indeks akan mendorong pengelola dana untuk melakukan penyesuaian dalam kepemilikan mereka, yang tentunya dapat memengaruhi saham-saham besar yang sebelumnya turut mendukung pergerakan IHSG.
Kendati mengalami tekanan, Beni menekankan bahwa situasi ini tidak mencerminkan kelesuan seluruh perekonomian nasional. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di angka di atas 5 persen, Beni mendorong untuk memisahkan masalah pasar saham dari kondisi ekonomi secara keseluruhan. Bagi masyarakat Blitar, ini bisa menjadi peluang untuk memahami bahwa ketidakpastian di pasar modal tidak serta merta membawa dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi lokal serta dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi yang lebih bijaksana.