Kericuhan Demonstrasi di Bali: 10 Terluka dan 22 Orang Diamankan
Denpasar – Kericuhan terjadi dalam demonstrasi yang berlangsung di depan Mapolda Bali dan Kantor DPRD Bali, pada Sabtu (30/8). Sebanyak delapan anggota Kepolisian Daerah Bali dan dua warga sipil mengalami luka-luka akibat ketegangan yang meningkat saat aksi unjuk rasa berlangsung. Korban saat ini mendapatkan perawatan medis di RS Trijata, Denpasar.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali, Komisaris Besar Polisi Ariasandy, menyatakan bahwa kepolisian telah menyiagakan sekitar 1.000 personel gabungan, termasuk Pecalang (sekuriti adat) untuk menjaga keamanan selama aksi. Massa yang berkumpul di depan Mapolda Bali awalnya berunjuk rasa menuntut keadilan bagi almarhum Affan Kurniawan, yang tewas setelah terlindas mobil polisi di Jakarta.
Usai menyampaikan tuntutannya, massa bergerak menuju Kantor DPRD Denpasar. Dirsamapta Polda Bali mencoba menenangkan penonton dengan naik ke mobil demonstran dan berjanji untuk menindaklanjuti tuntutan mereka. Namun, suasana berubah ketika beberapa pihak meminta Dirsamapta turun dari mobil, dan situasi semakin memanas.
Sekitar pukul 15.30 Wita, aksi demonstrasi mulai berubah menjadi anarkis. Massa berusaha memaksa masuk ke Mako Polda Bali dengan mendobrak pintu gerbang utama dan melemparkan batu ke arah petugas. Pertanyaannya, apa yang memicu tindakan ini? Di tengah ketegangan, beberapa individu mulai mencoret-coret pintu dan tembok Mako Polda.
Menanggapi keadaan tersebut, pasukan Penanggulangan Huru-Hara (PHH) dan Samapta dari Polda Bali terpaksa mendorong para demonstran mundur. Situasi menjadi makin tidak terkendali ketika massa berpencar menuju dua lokasi, yaitu Pasar Kreneng dan Kantor OJK Bali di Jalan WS. Supratman.
Sebagai langkah pencegahan, pihak kepolisian berhasil mengamankan 22 orang yang terlibat dalam kericuhan. Saat ini, status dari individu yang diamankan tersebut belum diumumkan oleh Polda Bali, dan pihak kepolisian melanjutkan investigasi lebih lanjut.
Komisaris Besar Ariasandy mengimbau masyarakat agar menjaga keamanan selama melakukan aksi unjuk rasa. “Unjuk rasa itu sah, tetapi harus dilakukan dengan cara damai. Bali adalah kawasan yang bergantung pada sektor pariwisata. Jika keamanan terganggu, akan berdampak negatif pada kunjungan wisatawan,” tegasnya.
Keberadaan kericuhan dalam sebuah demonstrasi menunjukkan pentingnya menjaga suasana kondusif demi kepentingan masyarakat luas. Pembelajaran bagi kita semua untuk terus saling menghormati dan berdialog dalam mengekspresikan pendapat dan aspirasi.
Aksi ini menyoroti tantangan yang dihadapi dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat dan keamanan publik. Harapan ke depannya, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyampaikan tuntutan, sehingga situasi seperti ini tidak terulang.