Berita

Aksi Anarkis Warnai Unjuk Rasa di Gedung DPRD Kota Madiun

Avatar photo
10
×

Aksi Anarkis Warnai Unjuk Rasa di Gedung DPRD Kota Madiun

Sebarkan artikel ini

Madiun Riuh: Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa dan Masyarakat Berujung Kerusakan di DPRD

Kota Madiun, 30 Agustus 2025 – Aksi unjuk rasa yang melibatkan elemen mahasiswa dan masyarakat terjadi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Madiun. Tindakan anarkis oleh demonstran menyebabkan kerusakan signifikan, dengan pagar gedung dirusak dan sejumlah kaca pecah akibat lemparan batu.

Dandim 0803/Madiun, Letkol Kav Widhi Bayu Sudibyo, mengonfirmasi bahwa kerusakan tersebut disebabkan oleh aksi lemparan batu dari para pengunjuk rasa. “Kena lemparan rusaknya,” tegas Bayu saat diwawancarai oleh detikJatim. Ia juga menambahkan bahwa insiden tersebut mengakibatkan beberapa korban luka, meski mayoritas disebabkan oleh tindakan kekacauan di antara massa itu sendiri.

Aksi protest ini dimulai sejak pukul 13.00 WIB ketika ratusan orang berkumpul di depan gedung DPRD. Mereka bersikeras merobohkan pagar sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap berbagai isu, salah satunya kemarahan atas tewasnya seorang pengemudi ojek online di Jakarta. Seruan “Masuk!” terdengar lantang dari massa yang berusaha mendobrak masuk ke dalam gedung, meskipun aparat keamanan sudah bersiaga dengan water cannon untuk menghalau mereka.

Kapolres Madiun Kota, AKBP Wiwin Junianto, menyatakan bahwa meskipun situasi mulai tenang dengan massa yang berangsur bubar, pihaknya tetap siaga di lokasi untuk mencegah terjadinya aksi susulan. “Kami masih siaga untuk antisipasi ada gerakan lagi,” jelas Wiwin.

Situasi memanas saat terjadi pelemparan batu dan aksi saling dorong antara massa dengan aparat keamanan yang berjaga. Menanggapi insiden tersebut, Bayu menyampaikan, “Alhamdulillah sudah bubar, hanya tinggal beberapa yang masih di pinggir jalan, tetapi kami akan perintahkan untuk bubar.”

Aksi ini bukan hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat, termasuk sejumlah pengemudi ojek online yang mengenakan atribut khas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa isu yang dibawa oleh para demonstran juga berkaitan dengan kehampaan suara dalam mencermati problematika yang dihadapi oleh masyarakat sehari-hari.

Kejadian di Kota Madiun ini menyoroti pentingnya dialog yang konstruktif antara masyarakat dan pemerintah daerah. Beberapa pengamat berpendapat bahwa ketidakpuasan yang meluas perlu menjadi perhatian serius oleh para wakil rakyat agar dapat mencegah terjadinya aksi serupa di masa mendatang. Dalam konteks ini, instrumen politik dan kebijakan publik harus dipertimbangkan secara lebih sensitif terhadap aspirasi masyarakat.

Dampak jangka panjang dari insiden ini membawa implikasi bagi stabilitas sosial di Kota Madiun dan sekitarnya. Masyarakat diharapkan dapat mengekspresikan pendapat mereka melalui saluran yang damai, sementara pemerintah diharapkan responsif terhadap keluhan dan saran yang disampaikan oleh warganya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa di tengah tantangan perubahan sosial yang cepat, penting untuk menjaga komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat demi terciptanya iklim yang kondusif bagi dialog dan penyelesaian masalah secara bersama-sama.