Internasional

Judul Berita: “Lebih dari 18.000 Anak Tewas di Gaza: PBB Desak Gencatan Senjata Segera”

Avatar photo
9
×

Judul Berita: “Lebih dari 18.000 Anak Tewas di Gaza: PBB Desak Gencatan Senjata Segera”

Sebarkan artikel ini

Lebih dari 18.000 Anak di Gaza Tewas Akibat Serangan Israel Sejak Awal Konflik

Jakarta, CNN Indonesia – Sejak dimulainya konflik di Gaza, jumlah anak yang tewas akibat serangan Israel telah mencapai lebih dari 18.000 orang, menurut data yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Rata-rata, 28 anak meninggal setiap hari sebagai akibat langsung dari pengeboman yang tidak henti-hentinya serta blokade terhadap bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza.

UNICEF, melalui akun resmi mereka, mengungkapkan bahwa kematian ini bukan hanya akibat pengeboman, tetapi juga disebabkan oleh malnutrisi, kelaparan, serta kurangnya akses terhadap layanan vital. “Di Gaza, rata-rata 28 anak terbunuh setiap harinya, setara dengan ukuran satu kelas,” demikian penyataan tersebut, yang menunjukkan betapa mengkhawatirkannya situasi ini.

Organisasi tersebut mendesak segera dilakukannya gencatan senjata untuk menghentikan krisis yang semakin memburuk di kawasan tersebut. Sejak 7 Oktober 2023, total sekitar 60.933 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 150.027 lainnya mengalami luka-luka. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya delapan warga Palestina, termasuk seorang anak, meninggal akibat kelaparan, yang semakin memperburuk kondisi di Gaza.

Aksel Zaimovic, jurnalis dari Al Jazeera, menjelaskan bahwa anak-anak yang bertahan hidup kini terpaksa menjalani kehidupan yang sangat keras untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. “Masa kanak-kanak kini digantikan oleh perjuangan sehari-hari,” ujarnya.

Pengalaman pahit ini dialami oleh Kadim Khufu Basim, seorang anak Palestina yang terpaksa mengambil alih tanggung jawab untuk keluarga beranggota enam orang setelah ayahnya terluka dan dirawat di Mesir. “Saya dulu suka bermain sepak bola, tapi sekarang saya hanya bisa menjual kue kering. Masa kecil saya hilang,” ungkapnya, menyakinkan bahwa situasi ini sangat merusak masa depan anak-anak di Gaza.

Hukum internasional seharusnya melindungi anak-anak dari dampak perang, namun kenyataannya berbeda di Gaza. Anak-anak di wilayah tersebut menjadi korban utama kampanye militer Israel. Fasilitas pendidikan dan akses air bersih dihancurkan, serta pasokan makanan diblokir, yang memengaruhi hak dasar mereka untuk mendapatkan pendidikan dan nutrisi yang layak.

Ahmad Alhendawi, direktur regional dari LSM Save the Children, dengan tegas menyatakan bahwa Gaza saat ini menjadi “kuburan bagi anak-anak dan mimpi-mimpi mereka.” Menurutnya, kondisi ini menciptakan trauma berkepanjangan bagi generasi muda di wilayah tersebut.

Sementara itu, kondisi di Gaza semakin memburuk dengan penutupan perlintasan oleh Israel sejak 2 Maret 2023, yang hanya mengizinkan masuk 86 truk bantuan setiap harinya. Angka ini jauh dari cukup, yakni hanya 14 persen dari minimal 600 truk yang dibutuhkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar populasi yang terjebak.

Lebih dari 150 organisasi kemanusiaan dan ahli PBB telah mendesak agar gencatan senjata dilakukan secara permanen untuk memungkinkan pengiriman bantuan yang lebih efektif dan pemulihan bagi anak-anak yang disebut sebagai “generasi yang hilang.” Kondisi ini membutuhkan perhatian dunia untuk mencegah situasi semakin memburuk di Gaza.